Dua pria Gen Z dengan fashion modern berdiri di jalan kota pada siang hari.
Perubahan tidak datang dengan teriakan. Ia muncul pelan-pelan, di momen seperti ini.

Revolusi Style Gen Z di Fashion Pria

Ada perubahan besar di fashion pria. Bukan perubahan yang berisik. Bukan juga sesuatu yang langsung terlihat. Perubahan ini terjadi pelan-pelan — di jalan-jalan kota, di stasiun kereta, di warung dan di layar smartphone yang menyala sampai larut malam.

Gen Z — kurang lebih pria yang lahir dari akhir 1990-an sampai awal 2010-an — tumbuh bersama internet, media sosial dan budaya global. Mereka melihat style dari seluruh dunia sejak usia muda.

Dan sekarang, mereka mengubah cara pria berpakaian.

​Bukan dengan melawan aturan. Namun dengan tidak peduli apakah aturan itu penting atau tidak.

​​Mereka berpakaian dengan niat. Dengan rasa. Dengan pikiran bahwa pakaian harus menunjukkan siapa diri anda sekarang — bukan siapa yang orang lain harapkan.

Berpakaian tanpa Izin di Fashion Pria Modern

​Ini bukan pemberontakan. Ini soal kecocokan dengan diri sendiri.

​Selama bertahun-tahun, fashion pria punya batas yang jelas. Warna aman. Bentuk rapi. Emosi disimpan. Berpakaian rapi berarti tidak menarik perhatian dan tidak terlalu berbeda.

Gen Z tidak tumbuh dengan cara pikir itu — dan mereka tidak mau mengulanginya.

Style sebagai Bahasa Pribadi

​Mereka mencampur banyak hal. Lembut dengan tegas. Warna pastel dengan hitam. Barang lama dengan gaya masa depan. Hari ini pakaian longgar, besok rapi dan tajam. Kalung mutiara dengan hoodie. Cat kuku dengan sepatu boots. Tas kecil dipakai seperti pelindung diri.

​Lihat Troye Sivan, yang menunjukkan rasa rentan lewat fashion. Atau Tyler, The Creator, yang bermain dengan warna dan bentuk tanpa peduli aturan lama. Dunia mereka berbeda, tetapi rasanya sama — berpakaian dari perasaan, bukan dari persetujuan orang lain.

​Semua ini bukan untuk cari sensasi. Ini untuk kejujuran.

Seorang pria Gen Z mengekspresikan diri lewat gaya fashion pribadi.
Style di sini bukan tren. Ini bahasa.

Perubahan Global dalam Style Pria

​​Di berbagai negara, perubahan ini muncul dengan bentuk berbeda. Di kota besar dan kota kecil. Di tempat yang fashion-nya sudah kuat dan di tempat yang baru mulai berkembang.

Di Asia, figur seperti Jackson Wang dan j-hope mencampur streetwear, fashion rapi dan ekspresi panggung. Di Eropa, musisi dan atlet bergerak bebas antara fashion eksklusif dan pakaian harian. Di Amerika, gaya pribadi jadi bagian dari identitas budaya.

​​Bahasanya beda. Rasanya sama.

Pria Gen Z dari latar belakang berbeda berjalan di kota dengan fashion modern.
Orang-orangnya beda. Polanya sama.

Bagaimana Gen Z Mengubah Pengaruh Fashion

​Gen Z tidak berpakaian untuk membuat orang kagum. Mereka berpakaian untuk terasa nyambung.

​​Pengaruh fashion tidak lagi datang hanya dari runway atau majalah. Sekarang datang dari media sosial, teman, creator online, thrift shop dan komentar di internet. Outfit dari seseorang di Jakarta bisa menginspirasi orang di Berlin dalam hitungan menit.

​​Terkenal bisa membantu — tetapi tidak wajib.

Banyak inspirasi datang dari orang biasa. Dan itu justru intinya.

Mengubah Maskulinitas Pria lewat Fashion

​​Yang penting sekarang adalah izin — untuk jadi lembut, berani, aneh, santai, serius atau semuanya sekaligus.

​​Aktor seperti Timothée Chalamet membawa sisi lembut ke fashion formal. Central Cee menunjukkan bahwa street style tidak harus keras untuk terasa maskulin. Kim Soo-hyun membuktikan bahwa gaya tenang dan halus juga punya kekuatan.

​Maskulinitas tidak dihapus. Maskulinitas diperluas.

Pria Gen Z menunjukkan maskulinitas lewat fashion yang lembut.
Maskulinitas tidak hilang. Ia jadi lebih luas.

Saat Fashion Pria Membawa Perasaan

Pakaian membawa emosi. Rasa rentan terlihat dari bahan. Percaya diri muncul dari potongan longgar. Warna menunjukkan rasa senang. Detail kecil menunjukkan sikap.

Bagi banyak pria Gen Z, berpakaian adalah cara paling jujur untuk bicara tentang diri mereka.

Pria Gen Z mengekspresikan perasaan lewat pakaian di momen sehari-hari.
Bagi sebagian pria, berpakaian adalah momen paling jujur dalam sehari.

Masa Depan Fashion Pria Sudah Ada

​Itulah kenapa perubahan ini menyebar cepat. Ini bukan milik satu negara, satu budaya atau satu komunitas. Gerakan ini mudah beradaptasi dan terus berubah. Setiap tempat menambahkan cerita dan gaya sendiri.

​Fashion pria bukan lagi soal menyesuaikan diri. Ini soal hadir sebagai diri sendiri.

​​Masa depannya terasa bebas. Ekspresif. Tidak terduga. Sangat pribadi.

​Fashion pria bukan seragam lagi. Ini kanvas.

Dan Gen Z sedang menggambarnya tanpa batas.

Fashion InfluenceGaya Sendiri

Hanan

Selalu ingin tahu tentang hidup dan orang


Hanan: teks•Apriyan: pengedit teks•13 Januari

Anda Mungkin Suka Ini

Suka yang ini? Kami memilih beberapa artikel lain yang mungkin juga anda suka.

Suaramu!

TINGGALKAN BALASAN.

Komentar Anda akan diposting setelah disetujui.