Alun-alun Place Saint-Lambert di Liège dengan kolom di tengah dan bangunan bersejarah.
Tidak ada sambutan besar, hanya ruang dan kota yang berjalan dengan ritmenya sendiri.

Liège: Kota Belgia yang Tidak Berusaha Terlalu Keras

Di bagian selatan Belgia yang berbahasa Prancis, terdapat Liège, kota yang sering diremehkan dan dikenal karena makanannya serta suasana yang apa adanya.

​Saya sudah tidak bisa menghitung berapa kali saya berakhir di Liège, namun saya masih belum bisa menjelaskan dengan tepat kota seperti apa ini. Kota ini terasa seperti berubah-ubah. Pertama kali saya turun dari kereta, saya merasa agak tersesat. Tidak ada momen 'Selamat datang di Liège' yang besar dan jelas. Tidak ada jalur wisata yang rapi untuk memandu. Tapi di situlah letaknya: Liège bukan kota yang anda datangi dengan rencana. Kota ini lebih terasa ketika anda membiarkannya terjadi.

Jalan, Air dan Sungai Meuse

​Sungai adalah bagian utama dari kota ini. Anda akan beberapa kali menyeberangi sungai Meuse dalam sehari, sampai air menjadi satu-satunya penunjuk arah yang terasa pasti.

Pada satu saat anda berjalan di jalan yang terasa benar-benar hidup, mungkin sedikit kasar di pinggirannya, lalu pada saat berikutnya anda sudah berada di alun-alun yang terang oleh matahari, dengan teras penuh orang dan udara yang berbau kopi serta batu yang lembap.

Rumah-rumah tradisional di Liège dengan arsitektur yang beragam.
Tidak dipoles, tidak dipaksakan, kota ini berjalan seperti biasa.

Lalu ada bukit-bukit. Awalnya mudah diabaikan, tapi ketika mulai dinaiki, sudut pandang terasa berubah. Bukit-bukit ini mengelilingi kota dan membuat jalan-jalan yang luas dan tidak terduga terasa lebih dekat, seolah banyak hal tersembunyi di dalam satu area yang padat.

Tangga batu sempit di antara dinding bata tua di Liège.

Jalan pintas yang perlahan mengubah cara melihat kota.

Pemandangan atap dan menara gereja di Liège dari atas.

Baru terasa masuk akal saat tidak lagi mencoba memahaminya.

Budaya tanpa Batas Formal

​​Yang membuat saya terus kembali bukan museum atau monumen, tapi karena Liège terasa nyata. Tradisi lokal bukan pertunjukan untuk orang travel, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hal ini terasa dari suara pasar dan energi orang-orang yang bergerak tanpa dibuat-buat.

​Di banyak kota, ‘budaya’ adalah sesuatu yang harus dibayar untuk dilihat di balik kaca. Di sini, seni dan sejarah begitu saja ada dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Jika anda berjalan tanpa peta, anda akan menemukan detail arsitektur yang menarik dan sudut-sudut tersembunyi yang tidak tercantum di buku panduan.

Musisi jalanan memainkan alat musik tiup di Liège.

Tidak ada panggung, tidak ada tiket, hanya suara di tempat yang tepat.

Patung bergaya komik berwarna dengan karakter di dalam mobil di Liège.

Tidak semua hal di sini perlu dianggap serius.

​Anda perlu beberapa kali perjalanan sampai akhirnya terasa jelas. Belgia punya situasi bahasa yang cukup kompleks: Flandria menggunakan bahasa Belanda, Brussel menggunakan dua bahasa, dan Wallonia menggunakan bahasa Prancis, sementara di bagian timur ada wilayah kecil yang menggunakan bahasa Jerman. Liège punya identitas yang kuat, tapi sering dilewati oleh orang Belanda dan orang Flandria yang travel menuju Hutan Ardennes di Wallonia. Liège adalah jantung dari wilayah ini, tapi tetap terasa seperti tempat yang belum banyak diketahui.

Shopping Lokal, Makan Enak

​Pusat kota terasa sedikit berantakan, tapi dengan cara yang menarik. Ada banyak merek besar, tapi berdampingan dengan butik kecil dan toko makanan independen. Beberapa terlihat seperti tidak banyak berubah selama puluhan tahun. Tempat ini tidak dibuat agar terlihat trendi, tapi memang tempat orang datang untuk shopping. Saya tidak pernah punya rencana, saya hanya berjalan sampai menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak saya cari.

Hidangan boulets à la Liégeoise dengan kentang goreng dan saus.

Boulets à la Liégeoise. Tidak ribet, tidak dibuat-buat, hanya makanan yang memuaskan.

Kafe kecil dengan tempat duduk di luar di Liège.

Tempat yang tidak direncanakan, tetapi tetap didatangi.

​Makanannya sederhana dan jujur. Tidak ada porsi kecil atau penyajian yang berlebihan. Jika anda memesan Boulets à la Liégeoise, anda akan mendapatkan hidangan yang kaya rasa, gelap dan memuaskan. Setelah itu, Boûkète, panekuk dengan kayu manis, dan wafel street food. Semua ini biasanya dinikmati dengan Pèkèt (minuman khas dari juniper yang cukup kuat) dan kopi. Di situlah ritme kota mulai terasa.

Kenapa Tetap Kembali

​Orang sering bertanya mengapa saya terus kembali, padahal tidak banyak tempat wisata yang bisa dicentang dari daftar. Justru itu intinya. Liège tidak mencoba menarik perhatian atau meminta penilaian tinggi. Kota ini nyaman menjadi dirinya sendiri dan hal itu terasa kuat bagi siapa pun yang datang.

DestinasiShoppingFoodieBelgia

Hanan

Selalu ingin tahu tentang hidup dan orang


Hanan: teks, foto•Apriyan: pengedit teks•20 April 2026

Anda Mungkin Suka Ini

Suka yang ini? Kami memilih beberapa artikel lain yang mungkin juga anda suka.

Suaramu!

TINGGALKAN BALASAN.

Komentar Anda akan diposting setelah disetujui.