Secangkir teh mentega berbuih dalam cangkir keramik putih di atas nampan kayu, diletakkan di meja kayu dengan sedikit tumpahan dan cahaya matahari hangat.
Teh mentega.

Secangkir Rasa Rumah: Film Pendek Butter Tea Membawa Tibet ke New York

Film pendek pemenang penghargaan Butter Tea karya Tenzin Tsasur, yang berlatar di Ngatso Café di distrik Queens di New York, mengeksplorasi bagaimana teh mentega Tibet menghubungkan berbagai generasi.

Ada rasa rindu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dalam bahasa Tibet, ada kata ‘la’, yang mengarah pada jiwa, sesuatu yang selalu dibawa di dalam diri, sesuatu yang tidak pernah benar-benar tertinggal.

Sejauh apa pun seseorang pergi, bahkan ribuan kilometer dari tempat yang dulu disebut rumah, rasa itu tetap ada. Perasaan inilah yang coba ditangkap oleh Tenzin Tsasur dalam film pendeknya, Butter Tea.

​Film ini menggunakan bahasa Inggris dan tidak punya subtitle Bahasa Indonesia.

Kafe yang Terasa seperti Rumah

​Butter Tea tidak datang dengan cara yang besar atau dramatis. Film ini justru terasa tenang dan sederhana. Sebagian besar adegan berlangsung di Ngatso Café di distrik Queens di New York, sebuah tempat nyata yang menjadi ruang berkumpul komunitas Tibet.

​​Kamera fokus pada sesuatu yang kecil: proses membuat dan menikmati teh mentega, minuman tradisional Tibet. Namun dari momen sederhana itu, muncul sesuatu yang jauh lebih besar.

​Film ini bertumpu pada dua aktor, Tenzin Phurpatsang dan Dhamchoe, yang membawa cerita ini dengan sangat natural. Tidak ada dialog berlebihan. Banyak hal disampaikan lewat suasana, lewat gerakan kecil, lewat ekspresi yang terasa jujur.

​Uap tipis dari secangkir teh, atau momen ketika seseorang merasakan sesuatu yang mengingatkan pada masa lalu, menjadi bagian penting dari cerita. Film ini terasa tenang, tidak berusaha terlalu keras dan justru itu yang membuatnya kuat.

Tetap Bertahan, Tanpa Perlu Mengatakannya

​​Jika disederhanakan, film ini berbicara tentang satu hal: bertahan. Tentang bagaimana seseorang tetap membawa bagian dari dirinya, bahkan ketika hidup berubah dan berpindah tempat.

​​Generasi yang lebih tua membawa Tibet di dalam diri mereka, lewat bahasa, kebiasaan dan cara hidup. Sementara generasi yang lebih muda, yang tumbuh di lingkungan berbeda, perlahan bisa kehilangan koneksi itu, bukan karena tidak peduli, tetapi karena hidup berjalan begitu cepat.

“

Mungkin anda juga pernah punya tempat seperti itu.

​​Di sinilah peran tempat seperti kafe menjadi penting. Bukan rumah, bukan tempat kerja, tetapi ruang di antaranya. Tempat di mana budaya tetap hidup, lewat kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Mungkin anda juga pernah punya tempat seperti itu.

Lebih dari Sekadar Minuman

​Memilih teh mantega sebagai pusat cerita terasa sangat tepat. Minuman ini dibuat dari teh hitam, mantega yak dan garam. Rasanya tidak biasa bagi banyak orang, bahkan bisa terasa aneh di awal. Namun bagi orang Tibet, teh mentaga adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia berkaitan dengan keramahan, dengan lingkungan pegunungan, dengan cara hidup yang sudah ada sejak lama.

​Minum teh mentega di sebuah kafe di New York terasa seperti berada di dua tempat sekaligus. Di satu sisi, ada kehidupan baru. Di sisi lain, ada sesuatu yang tetap terjaga.

“

Film ini menunjukkan bahwa momen kecil sering kali justru yang paling terasa.

Film ini memenangkan Audience Award di Tibet Film Festival Zurich 2025, sebuah pengakuan yang menunjukkan kekuatan cerita yang sederhana tetapi jujur.

​Penonton tertarik pada cerita seperti ini. Cerita yang dekat dengan kehidupan, yang tidak berisik, tetapi terasa nyata.

​Di saat banyak film mencoba menjadi besar dan mencolok, Butter Tea justru memilih arah sebaliknya. Film ini menunjukkan bahwa momen kecil sering kali justru yang paling terasa. Secangkir teh. Sebuah tatapan. Rasa yang tiba-tiba membawa seseorang kembali ke tempat asalnya.

​Beberapa hal, ternyata, tidak pernah benar-benar hilang.

Human InterestBudayaMakan & RasaWarisanTibetAmerika Serikat

Hanan

Selalu ingin tahu tentang hidup dan orang


Hanan: teks•Apriyan: pengedit teks•25 April 2026

Anda Mungkin Suka Ini

Suka yang ini? Kami memilih beberapa artikel lain yang mungkin juga anda suka.

Suaramu!

TINGGALKAN BALASAN.

Komentar Anda akan diposting setelah disetujui.